Pengantar & Prinsip Penyiaran Radio Di Era Digital
Prof. Josef Rauschecker, neuro-scientist dari University College, London, pernah mengungkapkan proses pengartian getaran suara (auditory) di otak jauh lebih cepat daripada proses pengartian getaran gambar (visual). Oleh sebab itulah apabila indera kita menerima sinyal/stimuli gambar dan sinyal/stimuli suara dalam waktu bersamaan sekaligus (seperti menonton TV), maka yang terjadi di otak adalah tercipta “gambar imajiner” terlebih dahulu (karena proses getaran auditory sudah selesai, sementara proses getaran visual masih berlangsung). Baru ketika proses getaran visual selesai, maka digabunglah kedua hasil proses tadi oleh otak untuk peng-artian lengkap. Dengan demikian bisa dikatakan, bahwa “gambar asli” dikonfirmasikan terlebih dahulu terhadap “gambar imajiner” (sebagai referensi yang sudah terbentuk lebih dahulu), baru setelah itu proses peng-artian oleh otak dengan masuknya kedua stimuli tersebut selesai/final.
Media radio, melalui sarana apapun didengarkannya, tetap saja ia merupakan media “suara/bunyi”. Maka salah satu kekuatan yang khas karakter radio adalah justru terletak pada hanya suara. Karena dengan suara sajalah bisa tercipta “gambar imajiner yang tak terbatas”. Kemampuan radio untuk menciptakan imajinasi tanpa batas inilah yang sering diistilahkan sebagai “Radio is Theatre of Mind”. Mengutip kata-kata tokoh periklanan dunia David Ogilvy, “Sebotol Coca-cola dengan ukuran dan bentuk yang tak terbatas, serta dapat berubah-ubah setiap saat, hanya
bisa dilakukan oleh Radio. Sedangkan kalau Anda melihat sebotol Coca Cola di Televisi, pasti bentuknya dan warnanya ya seperti itulah.. dan ukuran botolnya paling besar hanya sebesar layar televisi Anda”.
Kalimat ini secara akurat telah menggambarkan bagaimana Radio bisa menciptakan Theatre of Mind, suatu hal yang tak bisa dilakukan oleh media yang dianggap paling lengkap (audio-visual), yaitu televisi. Sayangnya, tidak banyak yang menyadari hal ini baik dari kalangan radio sendiri maupun dari kalangan pengiklan/biro iklan (advertisers & advertising agency), yang menganggap TV lebih unggul dari Radio. Padahal masing-masing media punya kekurangan dan keunggulannya masing-masing. Ke-effektif-an media sebetulnya sama saja, tergantung bagaimana cara kita mengoptimalkan karakteristik-nya.
.
Crafting Informative and Cohesive Body Content
Melalui buku ini yang menggabungkan beragam teori komunikasi terkait radio dan hasil dari praktik selama puluhan tahun, penulis Harliantara Harley Prayudha dan Andy Rustam Munaf berupaya mengajak Anda untuk mengoptimalkan Keunggulan Radio dalam kondisi kekinian, era digital. Dalam paparan Harliantara Harley Prayudha yang terserak dari bab 1 sampai bab 5, penulis coba mengajak Anda untuk menyelami beragam teori komunikasi yang bisa dan telah diimplementasikan menjadi bagian dunia radio. Tak hanya itu, dengan keterlibatannya secara langsung sebagai praktisi hingga sekarang, Harliantara Harley Prayudha pun memberikan sejumlah tips, terutama bagi para penyiar. Sementara itu, Andy Rustam Munaf dengan bahasa yang ringan juga kritis berupaya memberikan pemahaman esensi radio yang diuraikan dalam puluhan artikel yang tersimpan dalam bab 7 dan ini bisa diharapkan bisa mencerahkan dan melekatkan prinsip bagi siapa pun yang sudah dan ingin memasuki dunia radio sehingga mereka tak sekedar tahu, tetapi bisa paham.